Artikel ini menarik! Beritahu teman mu..

04 Mei 2010

Meningitis, penyakit peradangan selaput otak

Artikel ini berasal dari berbagai sumber yang membahas tentang penyakit meningitis, pencegahan dan pengobatannya.

Seorang guru meminta saya memasukkan artikel tentang meningitis di blog ini karena memiliki seorang siswa yang baru saja menjalani perawatan di rumah sakit dan tiba-tiba meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam.

Mudah-mudahan artikel yang saya himpun dari beberapa website memudahkan orang-orang memperoleh informasi tentang penyakit meningitis sehingga bisa dicegah atau dideteksi lebih awal untuk keberhasilan penyembuhan.

Di Wikipedia, saya mendapatkan pengertian penyakit meningitis….

Meningitis adalah radang membran pelindung sistem syaraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.

Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Daerah "sabuk meningitis" di Afrika terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur. Daerah ini ditinggali kurang lebih 300 juta manusia. Pada 1996 terjadi wabah meningitis di mana 250.000 orang menderita penyakit ini dengan 25.000 korban jiwa.

Pada website Info Penyakit, saya mendapatkan penyebab, serta tanda dan gejala penyakit meningitis…

Penyebab Penyakit Meningitis

Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS.

Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis diantaranya :
1. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus)
Bakteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak. Jenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung (sinus).

2. Neisseria meningitidis (meningococcus)
Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah.

3. Haemophilus influenzae (haemophilus)
Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jenis virus ini sebagai penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaccine) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.

4. Listeria monocytogenes (listeria)
Ini merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis. Bakteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat, dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi. Makanan ini biasanya yang berjenis keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).

5. Bakteri lainnya yang juga dapat menyebabkan meningitis adalah Staphylococcus aureus dan Mycobacterium tuberculosis.

Dari website parentsindonesia.com, saya menemukan gejala-gejala penyakit meningitis, penularan penanganan, dan pencegahan.

Pada bayi akan tampak gejala-gejala…

  • Demam
  • Kejang pada tengkuk
  • Rewel/gelisah
  • Susah makan
  • Menangis terus-menerus
  • Lemah
  • Intensitas interaksi berkurang
  • Ubun-ubun membenjol

Pada anak-anak akan tampak gejala-gejala…

  • Demam
  • Kejang pada tengkuk
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Bingung/disorientasi
  • Serangan mendadak
  • Tidak suka cahaya terang (fotofobia)
  • Ruam di sekujur tubuh

Penularan dan penanganan

Bakteri pneumokokus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Penelitian yang diungkapkan konsultan penyakit menular dari Leicester Royal Infirmary, Inggris, Dr Martin Wiselka, menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien meninggal dunia akibat penyakit tersebut, hanya dalam waktu 48 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia. Pasien yang terlanjur koma ketika dibawa ke rumah sakit, sulit untuk bisa bertahan hidup. Infeksi pneumokokus lebih sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa karena tubuh anak belum bisa memproduksi antibodi yang dapat melawan bakteri tersebut.

Sebanyak 50 persen pasien meningitis yang berhasil sembuh biasanya menderita kerusakan otak permanen yang berdampak pada kehilangan pendengaran, kelumpuhan, atau keterbelakangan mental. Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan semakin parah setelah beberapa bulan.

“Semua bayi sejak usia 1 tahun sudah mempunyai bakteri pneumokokus yang hidup di tenggorok,” kata Dr. Aman B. Pulungan, SpA (K), konsultan endokrinologi anak dari Klinik Anakku Cinere, Jakarta.

Namun, keberadaan bakteri tersebut tidak selalu dapat diartikan seorang anak menderita infeksi pneumokokus. Bakteri tersebut membawa dampak yang berbeda bagi setiap orang dan dari 90 jenis bakteri pneumokokus hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya. Penularan penyakit akibat bakteri pneumokokus terjadi melalui percikan ludah saat bersin, batuk, atau berbicara, dari penderita kepada orang sehat. Selain bayi dan lansia, mereka yang rentan terjangkit infeksi pneumokokus adalah seseorang yang sedang dirawat di RS atau tinggal serumah dengan banyak orang, kerap berinteraksi dengan penderita, dan mempunyai kelainan daya tahan tubuh seperti terinfeksi virus HIV.

Seseorang bisa diduga terserang meningitis jika mempunyai riwayat pneumonia atau infeksi telinga. Dalam beberapa kasus, pengambilan sampel cairan otak diperlukan untuk mendiagnosa meningitis. Pada orang sehat, cairan otak tampak bening. Sementara pada penderita pneumococcal meningitis warna cairan terlihat keruh dan tes laboratorium mengindikasikan banyak bakteri dan jumlah sel darah putih yang berlebih.

Penderita meningitis perlu mendapat antibiotik sesegera mungkin. Perawatan umumnya dilakukan selama 10-14 hari. Pengobatan panjang itu dianggap perlu untuk mencegah komplikasi atau mencegah infeksi datang kembali. Pada kasus yang dianggap berat, diperlukan perawatan intensif di UGD dan ketersediaan ventilasi udara untuk membantu pernapasan.

Pencegahan

Untuk mencegah IPD, termasuk meningitis, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan vaksin konjugat pneumokokus. Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak yang berusia 2 bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin paling baik dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12 – 15 bulan. “Data yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention pada 2005 menyatakan infeksi pneumokokus berkurang hingga 97 persen dalam 6 tahun setelah pemberian vaksin,” kata Dr. Aman. Selain itu, vaksin juga mengurangi jumlah anak yang menjadi pembawa bakteri penyakit tenggorok serta mengurangi penyebaran IPD dari anak ke orang dewasa.

Vaksin konjugat pneumokokus juga hanya menimbulkan efek samping yang ringan seperti kulit kemerahan, sedikit bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan. Gejala umum setelah pemberian vaksin seperti demam, mengantuk, rewel, nafsu makan berkurang, jarang ditemukan pada bayi. “Vaksinasi pneumokokus boleh diberikan bersamaan dengan vaksin lain, seperti vaksin DTP/HiB, DtaP, Hib, IPV, Hepatitis B, MMR, dan Varicella,” kata Dr. Aman.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk banyak orang…